3/12/2015

Ayok baca link ini, lalu tinggalkan jejak kritik dan saran anda :)

Om Swastyastu
Hallo readers!
Saya Luh Eka Margarita Setianingtyas, 21 years old.
Dalam rangka memperingati ulang tahun Peradah yg ke-31, saya ikut berpartisipasi dalam Lomba Menulis Populer. Syarat untuk memenangkan lomba  dilihat dari banyaknya viewer dan komentar dalam artikel tersebut.

Artikel saya ini mencakup opini saya mengenai pemuda Hindu, khususnya di Bali. Pemuda yang memiliki rasa optimis yg tinggi dalam pembangunan bangsa menuju bangsa yang mandiri. Karena, pemuda dinilai memiliki pemikiran yang kritis dan dalam melihat secara arif perkembangan bangsa saat ini.

Nah, bagi readers yang bersedia membantu saya untuk memenangkan kompetisi ini, dipersilahkan untuk membuka link di bawah ini dan tinggalkan jejak berupa kritik dan saran di kolom komentar artikel saya, bukan di blog ini. Thank you in advance!

Selamat membaca :)

http://edukasi.kompasiana.com/2015/03/11/kontribusi-dan-integritas-pemuda-hindu-menuju-bangsa-yang-mandiri-729280.html

2/10/2015

MELIPIR KE BUITENZORG

Selasa, 27 Januari 2015 saya diajak abangnya Kaino ke salah satu tempat bersejarah di daerah Bogor. Tujuan utama kami kesana adalah hunting dengan model si kecil Beargguy, sekali-kali ajak si kecil jalan-jalan. Tujuan lainnya menapaki kaki di tempat ini ialah menambah pengetahuan tentang tempat bersejarah ini, ya bonus main lah ya! Hahaha

Yak! Kami ke Kebun Raya Bogor, kebun raya pertama di Asia Tenggara yang juga menjadi lokasi istana presiden, Istana Bogor. Dulu nama kebun raya ini Buitenzorg.

“Heaayyy!”

Udah kesekian kalinya saya ke tempat ini, namun tidak pernah merasa bosan. Karena, disini itu sejuk, hijau, dan banyak bunga! Dan yang ajaibnya –entahlah ini ajaib atau emang kebetulan– kami berangkat dari Depok setelah hujan deras berhenti, tadinya mau mengurungkan niat kami kesini, namun hati kecil berkata lain. Akhirnya kami berangkat tanpa pikir panjang dengan menggunakan transportasi umum, Commuter Line. Diperjalanan kami melihat langit didaerah Bogor gelap, dan kami berpikiran akan hujan! :(

”Yaudahlah kalau hujan kita balik lagi aja atau makan disekitar Stasiun Bogor”, ucap saya pasrah.

Dan tepat dugaan kami! Sesampainya di stasiun, gerimis pun datang! Langsung cari angkot 03 (info dari temen, meskipun harusnya 02 biar gak muter2 jauh) kami turun di Botani Square dan terpaksa gak terpaksa kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. It doesn’t matter! Jiwa petualang kami mulai memanas. Melalui penyebrangan underground. Sayang sekali, fasilitas ini masih dianggap asing oleh sebagian masyarakat. Padahal gratis loh, trus aman buat nyebrang~

Kalau diukur, jalan kaki dari Botani Square ke KRB lumayan juga. Tapi serius deh gak kerasa capek, yang ada malah cekakakan di jalan sambil liatin kelinci yang dijual dipinggir jalan. Kasian ya kelinci itu, kena debu, asap kendaraan, gerimis pula.

Beberapa menit kemudian....sampai! Horaaay! Terlihat pintu masuk KRB dengan tiket 14.000 rupiah saja! Terjangkau kan harganya~

Ini yang saya bilang ajaib, tidak hujaaaaaan!!

Petualangan pun dimulai. Hajimemashou!

Objek pertama yang kami ambil adalah....Istana Bogor! *siapin kamera*

Istana Bogor

 Lalu,

Lotus

Setelah mengambil gambar teratai, saya penasaran dengan kuburan Belanda. Akhirnya kami menuju lokasi. Dan anda tau, lokasi kuburan itu tertutup bambu-bambu. Kalau tidak jeli, mungkin tidak akan terlihat. Sayangnya, tidak sempat saya ambil gambar karena saya terlanjut ngibrit karena takut, payah! Lalu, kami memutuskan balik lagi ke sekitar pintu masuk. Ada sebuah monumen......

Monumen Lady Olivia Raffles


Dan ini modelnya.......

Berhubung dia mini, jadi harus begini posisi pengambilan gambar

si kecil Beargguy sedang ber-pose

ssstttt!
 

Hi!



Ini beberapa spot yang bikin hati adem.
Soalnya yang nemenin lagi adem hahaha~



Nemu pinecone!



Ada yang lucu saat nyari spot disekitar jembatan merah. Ini ayam kenapa genit banget ya? Dia tau kalau saya pegang kamera, lalu terus mendekati saya. Akhirnya dia ber-pose tepat didepan kami!  >.<
Ayam juga narsis!
Berhubung almost 4pm dan museum Zoologi mau tutup, akhirnya kami memutuskan untuk ke museum. (berangkatnya kesiangan sih huhuhu)

Hayooo tebak ini kerangka hewan apa saja?!




Kerangka paus biru raksasa (Balaenoptera musculus)

Setelah memanjakan mata, hati, pikiran, dan perut. Kami pun kembali ke habitat, Depok! Dengan menggunakan transportasi umum, Commuter Line.

Terimakasih telah membaca, sampai jumpa di petualangan selanjutnya bersama si kecil Beargguy III dan abangnya Kaino :)

 

6/30/2014

Kota Gudeg

Hi, readers !
Kali ini saya mau berbagi cerita tentang keindahan kota Yogyakarta.
Sudahkah anda berkunjung ke kota ini ? Jika sudah, besar kemungkinan anda merindukan tempat ini kembali. Hihihi

Yogyakarta atau Ngayogyakarta (Pakubuwono II) sering disebut sebagai kota pelajar karena berkaitan dengan sejarah dan peran kota ini dalam bidang pendidikan di Indonesia. Sebutan kota perjuangan juga merupakan salah satu predikat untuk kota ini berkaitan dengan peran kota Yogyakarta dalam konstelasi perjuangan bangsa Indonesia pada jaman kolonial Belanda, jaman penjajahan Jepang, maupun jaman memepertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Yogyakarta pernah menjadi pusat kerajaan Mataram. Predikat kota kebudayaan dan pariwisata pun tak luput diberikan untuk kota Gudeg ini. Sehubungan dengan adanya peninggalan-peninggalan budaya menjadikan kota ini memiliki daya tarik tersenderi terhadap wisatawan. Yogyakarta merupakan tujuan wisata kedua setelah Bali bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. 

Disamping dengan predikat-predikat yang diberikan kepada kota ini, Yogyakarta juga memiliki hal menarik lainnya, yaitu nama daerah yang dimilikinya. Daerah Istimewa Yogyakarta, status Yogyakarta sebagai Daerah Istimewa ini berkaitan dengan sejarah kota Yogyakarta baik sebelum maupun sesudah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Saya abadikan gambar saya saat saya dan teman2 saya berkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta ini.

At Malioboro sebelum makan Gudeg


At KM 0

Ketemu anak ini, Icand. Kawan lama SMA saya hahaha. Thanks ya Cand...

Gak tau kenapa banyak yang bilang kalau ke Jogja wajib foto di sini. Saya sih ikut2an aja hahaha

Pantai Parangtritis

Pasca penghitaman kulit. Biar tambah eksotis. Gapapa deh~

Wah ini !! Girang banget nemu beginian hahaha. At Alun-alun Kidul Yogyakarta

At Keraton Yogyakarta

At Museum Kereta Keraton Yogyakarta

At Taman Sari

The cuttest one ! MONJALI. Taman Lampion. :))

Aaaaa ketemu Mickey Mouse di tempat se-romantis ini (Taman Lampion). Akhirnya bisa pacaran juga sama Mickey. HUG ! ~


Naruto yg bajunya kebalik *ups. Hehehe


Hallo ! Ibu Mega :)

Yak ! Itulah yang bisa saya sampaikan saat ini. Meskipun berkunjung ke kota ini udah ke sekian kalinya, namun saya tetap merasakan "greget"-nya kota Gudeg ini karena moment yang saya ambil berbeda-beda, dari mulai pergi bersama keluarga hingga teman-teman. Ohya kalau malem nih, sangat disarankan untuk makan di angkringan ! Walaupun orang tua saya sering bilang kalau makan di angkringan atau makan nasi kucing gitu gak kenyang tapi toh kan bisa nambah hahaha..

Terimakasih telah mampir.

Sekian~



5/21/2014

Rahajeng Galungan lan Kuningan

Om Swastyastu. Rahajeng Galungan lan Kuningan. Dumogi Ida Sang Hyang Widhi Wasa ngicenin karahayuan irage sareng sami. Om Shanti Shanti Shanti Om. :)
21 & 31 Mei 2014

5/01/2014

MAY DAY !

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPSAJktJlb5fxu9Mck3-qufNdH4TQ_6hzCd3cH-bk0L0rNyJjbpYv5dfaAOohIy-U8E6A4S0h-Z7an8yrq4hCst_9Q0SgnGuq5KGOWC1P4Wetu3PGfLpJi6kfx3M4xp-ZBQQLut21bdxF1/s1600/MayDay+3.jpg
Internationally the First of May is known and celebrated as the workers’ holiday. In America, on the other hand, the First Monday in September is officially set aside as Labor Day, and those who insist, in the international spirit, on celebrating May Day are obliged to do so in defiance of the country’s established custom for the sake of greater harmony with the prole- tariat of the world. 

May Day faces the relationship of capital and labor in the Marxian spirit of the class struggle; Labor Day sticks to the hollow pretense of a brotherhood between capital and labor instilled through Samuel Gompers into the American Federation of Labor. 

May Day Born in the United States

The First International ceased to exist as an international organization in 1872, when its headquarters were removed from London to New York, although it was not officially disbanded till 1876. It was at the first congress of the reconstituted International, through the initiative of the delegate of the Socialist Labor Party of America to the International Socialist Congress held in Paris, France, in July, 1889, that May First was set aside as a day upon which the workers of the world, organized in their political parties and trade unions, were to fight for the important political demand: the 8-hour day. The Paris decision was influenced by a decision made at Chicago five years earlier by delegates of a young American labor organization – the Federation of Organized Trades and Labor Unions of the United States and Canada, later known under the abbreviated name, American Federation of Labor.
The prime object of the resolution was a proclamation to the capitalist world of the international solidarity of the working class. On this one day in the year the workers of all countries and climes, despite differences in customs, traditions and languages, could unite to demonstrate to the world that as members of the same class, the ex- ploited, the world proletariat, their interests were the same, and that like members of one family they stand united for the overthrow of world capitalism, and the establishment of an International Socialist Republic, a world of harmony, peace and freedom to all men.
Traditional May Day celebrations
May Day is related to the Celtic festival of Beltane and the Germanic festival of Walpurgis Night. May Day falls half a year from November 1 – another cross-quarter day which is also associated with various northern European paganisms and the year in the Northern Hemisphere – and it has traditionally been an occasion for popular and often raucous celebrations.
As Europe became Christianized, the pagan holidays lost their religious character and either changed into popular secular celebrations, as with May Day, or were merged with or replaced by new Christian holidays as with Christmas, Easter, and All Saint's Day. In the 20th and continuing into the 21st century, many neopagans began reconstructing the old traditions and celebrating May Day as a pagan religious festival again. Note that the source noted does not support any of the changes claimed by the previous statement. The only significant Christianization of May day is essentially localized to Germany where it is one of many historic days that were used to celebrate St. Walburga (the saint credited with bringing Christianity to Germany).
The Future Belongs to Communism
For the May Day, 1923, edition of the Weekly Worker, C. E. Ruthenberg wrote: "May Day – the day which inspires fear in the hearts of the capitalists and hope in the workers – the workers the world over – will find the Communist movement this year stronger in the U. S. than at any time in its history.... The road is clear for greater achievements, and in the United States as elsewhere in the world the future belongs to Communism." In a Weekly Worker of a generation before, Eugene V. Debs wrote in a May Day edition of the paper, published on April 27, 1907: "This is the first and only International Labor Day. It belongs to the working class and is dedicated to the Revolution."

The world is nearer to Communism today. We are living in a more advanced period now. Capitalism has swung downward and is progressively moving in that direction. The sharpness of its own contradictions is making its ability to carry on more difficult. The workers are growing in political consciousness and are engaged in a counter-offensive which is gaining in scope and depth. The oppressed colonial and semi-colonial peoples are rising and challenging the rule of imperialism.

In the Soviet Union the workers will review on May Day the phenomenal achievements of the building of Socialism. In the capitalist countries May Day will be as always a day of struggle for the immediate political demands of the working class, with the slogans of proletarian dictatorship and a Soviet Republic kept not far in the background.

Source : 
https://www.marxists.org/subject/mayday/articles/tracht.html
http://en.wikipedia.org/wiki/May_Day
mayday_vs_ld_omj.pdf