When you are writing, you do not need to be as good as Poe, Shakespeare or Rowling. You need to be as good as you! @TyasMargarita
5/21/2014
5/01/2014
MAY DAY !
Internationally the First of May is known and celebrated as the workers’
holiday. In America, on the other hand, the First Monday in September is
officially set aside as Labor Day, and those who insist, in the international
spirit, on celebrating May Day are obliged to do so in defiance of the
country’s established custom for the sake of greater harmony with the prole-
tariat of the world.
May Day faces the relationship of capital and labor in the Marxian
spirit of the class struggle; Labor Day sticks to the hollow pretense of a
brotherhood between capital and labor instilled through Samuel Gompers into the
American Federation of Labor.
May Day Born in the United
States
The First International ceased to exist as an international organization
in 1872, when its headquarters were removed from London to New York, although
it was not officially disbanded till 1876. It was at the first congress of the
reconstituted International, through the initiative of the delegate of the
Socialist Labor Party of America to the International Socialist Congress held in
Paris, France, in July, 1889, that May First was set aside as a day upon which
the workers of the world, organized in their political parties and trade
unions, were to fight for the important political demand: the 8-hour day. The
Paris decision was influenced by a decision made at Chicago five years earlier
by delegates of a young American labor organization – the Federation of Organized
Trades and Labor Unions of the United States and Canada, later known under the
abbreviated name, American Federation of Labor.
The prime object of the resolution was a proclamation to the capitalist
world of the international solidarity of the working class. On this one day in
the year the workers of all countries and climes, despite differences in
customs, traditions and languages, could unite to demonstrate to the world that
as members of the same class, the ex- ploited, the world proletariat, their
interests were the same, and that like members of one family they stand united
for the overthrow of world capitalism, and the establishment of an International
Socialist Republic, a world of harmony, peace and freedom to all men.
Traditional May Day celebrations
May
Day is related to the Celtic festival of Beltane and the Germanic festival of Walpurgis Night. May Day falls half a year from November
1 – another cross-quarter day which is
also associated with various northern European paganisms and the year in the Northern Hemisphere – and
it has traditionally been an occasion for popular and often raucous
celebrations.
As
Europe became Christianized, the pagan
holidays lost their religious character and either changed into popular secular
celebrations, as with May Day, or were merged with or replaced by new Christian
holidays as with Christmas, Easter,
and All Saint's Day. In the
20th and continuing into the 21st century, many neopagans began reconstructing the old traditions and
celebrating May Day as a pagan religious festival again. Note
that the source noted does not support any of the changes claimed by the
previous statement. The only significant Christianization of May day is
essentially localized to Germany where it is one of many historic days that
were used to celebrate St. Walburga (the saint credited with bringing
Christianity to Germany).
The Future Belongs to Communism
For
the May Day, 1923, edition of the Weekly Worker, C. E. Ruthenberg wrote:
"May Day – the day which inspires fear in the hearts of the capitalists
and hope in the workers – the workers the world over – will find the Communist
movement this year stronger in the U. S. than at any time in its history....
The road is clear for greater achievements, and in the United States as
elsewhere in the world the future belongs to Communism." In a Weekly
Worker of a generation before, Eugene V. Debs wrote in a May Day edition of the
paper, published on April 27, 1907: "This is the first and only International
Labor Day. It belongs to the working class and is dedicated to the
Revolution."
The
world is nearer to Communism today. We are living in a more advanced period
now. Capitalism has swung downward and is progressively moving in that
direction. The sharpness of its own contradictions is making its ability to
carry on more difficult. The workers are growing in political consciousness and
are engaged in a counter-offensive which is gaining in scope and depth. The
oppressed colonial and semi-colonial peoples are rising and challenging the
rule of imperialism.
In
the Soviet Union the workers will review on May Day the phenomenal achievements
of the building of Socialism. In the capitalist countries May Day will be as
always a day of struggle for the immediate political demands of the working
class, with the slogans of proletarian dictatorship and a Soviet Republic kept
not far in the background.
Source :
https://www.marxists.org/subject/mayday/articles/tracht.html
http://en.wikipedia.org/wiki/May_Day
mayday_vs_ld_omj.pdf
3/20/2014
SAJAK PULAU BALI
Oleh W.S. Rendra
Sebab percaya akan keampuhan industri
dan yakin bisa memupuk modal nasional
dari kesenian dan keindahan alam,
maka Bali menjadi obyek pariwisata.
Betapapun :
tanpa basa-basi keyakinan seperti itu,
Bali harus dibuka untuk pariwisata.
Sebab :
pesawat-pesawat terbang jet sudah dibikin,
dan maskapai penerbangan harus berjalan.
Harus ada orang-orang untuk diangkut.
Harus diciptakan tempat tujuan untuk dijual.
Dan waktu senggang manusia,
serta masa berlibur untuk keluarga,
harus bisa direbut oleh maskapai
untuk diindustrikan.
Dan Bali,
dengan segenap kesenian,
kebudayaan, dan alamnya,
harus bisa diringkaskan,
untuk dibungkus dalam kertas kado,
dan disuguhkan pada pelancong.
Pesawat terbang jet di tepi rimba Brazilia,
di muka perkemahan kaum Badui,
di sisi mana pun yang tak terduga,
lebih mendadak dari mimpi,
merupakan kejutan kebudayaan.
Inilah satu kekuasaan baru.
Begitu cepat hingga kita terkesiap.
Begitu lihai sehingga kita terkesima.
Dan sementara kita bengong,
pesawat terbang jet yang muncul dari mimpi,
membawa bentuk kekuatan modalnya :
lapangan terbang. “hotel - bistik - dan - coca cola”,
jalan raya, dan para pelancong.
“Oh, look, honey - dear !
Lihat orang-orang pribumi itu!
Mereka memanjat pohon kelapa seperti kera.
Fantastic ! Kita harus memotretnya !
................................
Awas ! Jangan dijabat tangannya !
senyum saja and say hello.
You see, tangannya kotor
Siapa tahu ada telor cacing di situ.
…………………….
My God, alangkah murninya mereka.
Ia tidak menutupi teteknya !
Look, John, ini benar-benar tetek.
Lihat yang ini ! O, sempurna !
Mereka bebas dan spontan.
Aku ingin seperti mereka…..
Eh, maksudku…..
Okey ! Okey !….Ini hanya pengandaian saja.
Aku tahu kamu melarang aku tanpa beha.
Look, now, John, jangan cemberut !
Berdirilah di sampingnya,
aku potret di sini.
Ah ! Fabolous !”
Dan Bank Dunia
selalu tertarik membantu negara miskin
untuk membuat proyek raksasa.
Artinya : yang 90 % dari bahannya harus diimpor.
Dan kemajuan kita
adalah kemajuan budak
atau kemajuan penyalur dan pemakai.
Maka di Bali
hotel-hotel pribumi bangkrut
digencet oleh packaged tour.
Kebudayaan rakyat ternoda
digencet standar dagang internasional.
Tari-tarian bukan lagi satu mantra,
tetapi hanya sekedar tontonan hiburan.
Pahatan dan ukiran bukan lagi ungkapan jiwa,
tetapi hanya sekedar kerajinan tangan.
Hidup dikuasai kehendak manusia,
tanpa menyimak jalannya alam.
Kekuasaan kemauan manusia,
yang dilembagakan dengan kuat,
tidak mengacuhkan naluri ginjal,
hati, empedu, sungai, dan hutan.
Di Bali :
pantai, gunung, tempat tidur dan pura,
telah dicemarkan
Pejambon, 23 Juni 1977.
Potret Pembangunan dalam Puisi
Sebab percaya akan keampuhan industri
dan yakin bisa memupuk modal nasional
dari kesenian dan keindahan alam,
maka Bali menjadi obyek pariwisata.
Betapapun :
tanpa basa-basi keyakinan seperti itu,
Bali harus dibuka untuk pariwisata.
Sebab :
pesawat-pesawat terbang jet sudah dibikin,
dan maskapai penerbangan harus berjalan.
Harus ada orang-orang untuk diangkut.
Harus diciptakan tempat tujuan untuk dijual.
Dan waktu senggang manusia,
serta masa berlibur untuk keluarga,
harus bisa direbut oleh maskapai
untuk diindustrikan.
Dan Bali,
dengan segenap kesenian,
kebudayaan, dan alamnya,
harus bisa diringkaskan,
untuk dibungkus dalam kertas kado,
dan disuguhkan pada pelancong.
Pesawat terbang jet di tepi rimba Brazilia,
di muka perkemahan kaum Badui,
di sisi mana pun yang tak terduga,
lebih mendadak dari mimpi,
merupakan kejutan kebudayaan.
Inilah satu kekuasaan baru.
Begitu cepat hingga kita terkesiap.
Begitu lihai sehingga kita terkesima.
Dan sementara kita bengong,
pesawat terbang jet yang muncul dari mimpi,
membawa bentuk kekuatan modalnya :
lapangan terbang. “hotel - bistik - dan - coca cola”,
jalan raya, dan para pelancong.
“Oh, look, honey - dear !
Lihat orang-orang pribumi itu!
Mereka memanjat pohon kelapa seperti kera.
Fantastic ! Kita harus memotretnya !
................................
Awas ! Jangan dijabat tangannya !
senyum saja and say hello.
You see, tangannya kotor
Siapa tahu ada telor cacing di situ.
…………………….
My God, alangkah murninya mereka.
Ia tidak menutupi teteknya !
Look, John, ini benar-benar tetek.
Lihat yang ini ! O, sempurna !
Mereka bebas dan spontan.
Aku ingin seperti mereka…..
Eh, maksudku…..
Okey ! Okey !….Ini hanya pengandaian saja.
Aku tahu kamu melarang aku tanpa beha.
Look, now, John, jangan cemberut !
Berdirilah di sampingnya,
aku potret di sini.
Ah ! Fabolous !”
Dan Bank Dunia
selalu tertarik membantu negara miskin
untuk membuat proyek raksasa.
Artinya : yang 90 % dari bahannya harus diimpor.
Dan kemajuan kita
adalah kemajuan budak
atau kemajuan penyalur dan pemakai.
Maka di Bali
hotel-hotel pribumi bangkrut
digencet oleh packaged tour.
Kebudayaan rakyat ternoda
digencet standar dagang internasional.
Tari-tarian bukan lagi satu mantra,
tetapi hanya sekedar tontonan hiburan.
Pahatan dan ukiran bukan lagi ungkapan jiwa,
tetapi hanya sekedar kerajinan tangan.
Hidup dikuasai kehendak manusia,
tanpa menyimak jalannya alam.
Kekuasaan kemauan manusia,
yang dilembagakan dengan kuat,
tidak mengacuhkan naluri ginjal,
hati, empedu, sungai, dan hutan.
Di Bali :
pantai, gunung, tempat tidur dan pura,
telah dicemarkan
Pejambon, 23 Juni 1977.
Potret Pembangunan dalam Puisi
MENCINTAI
Kahlil Gibran
Bukanlah bagaimana kamu melupakan,melainkan bagaimana kamu memaafkan
Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan,
melainkan bagaimana kamu mengerti
Bukanlah apa yang kamu lihat,
melainkan apa yang kamu rasakan
Bukanlah bagaimana kamu melepaskan
melainkan bagaimana kamu bertahan
Lebih berbahaya mencucurkan air mata dalam hati dibandingkan menangis tersedu-sedu
Air mata yang keluar dapat dihapus
Sementara air mata yang tersembunyi menggoreskan luka yang tidak akan pernah hilang
Akan tiba saatnya di mana kamu harus berhenti mencintai seseorang
Bukan karena orang itu berhenti mencintai kita
Melainkan karena kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia,
apabila kita melepaskannya.
Apabila kamu benar-benar mencintai seseorang,
jangan lepaskan dia.
Jangan percaya bahwa melepaskan selalu berarti kamu benar-benar mencintai
Melainkan berjuanglah demi cintamu
Itulah cinta sejati
Lebih baik menunggu orang yang kamu inginkan
Daripada berjalan bersama orang 'yang tersedia'
Lebih baik menunggu orang yang kamu cintai
Daripada orang yang berada di sekelilingmu
Lebih baik menunggu orang yang tepat,
karena hidup ini terlalu singkat untuk dibuang hanya dengan 'seseorang'
CINTA YANG AGUNG ...
Kahlil Gibran
... adalah ketika kamu menitikkan air mata dan masih peduli terhadapnya
... adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih menunggunya dengan setia... adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum sembari berkata
‘Aku turut berbahagia untukmu’
Apabila cinta tidak berhasil…bebaskan dirimu…
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas lagi ..
Ingatlah…bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya..
Tapi, ketika cinta itu mati, kamu tidak perlu mati bersamanya…
Orang terkuat bukan mereka yang selalu menang,
melainkan mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh
Khalil Gibran 1
Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur ?
Ketika kita menangis ?
Ketika kita membayangkan ?
Itu karena hal terindah di dunia tidak terlihat
Ketika kita menemukan seseorang yang keunikannya sejalan dengan kita,
kita bergabung dengannya dan jatuh kedalam suatu keanehan serupa yang
dinamakan cinta
Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan
Orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan
Tapi ingatlah melepaskan bukan akhir dari dunia
Melainkan awal suatu kehidupan baru
Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis,
mereka yang tersakiti,
mereka yang telah mencari dan mereka yang telah mencoba
Karena mereka-lah yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang telah
menyentuh kehidupan mereka
Ketika kita membayangkan ?
Itu karena hal terindah di dunia tidak terlihat
Ketika kita menemukan seseorang yang keunikannya sejalan dengan kita,
kita bergabung dengannya dan jatuh kedalam suatu keanehan serupa yang
dinamakan cinta
Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan
Orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan
Tapi ingatlah melepaskan bukan akhir dari dunia
Melainkan awal suatu kehidupan baru
Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis,
mereka yang tersakiti,
mereka yang telah mencari dan mereka yang telah mencoba
Karena mereka-lah yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang telah
menyentuh kehidupan mereka
MIMPI
Kahlil Gibran
Kala malam datang dan rasa kantuk membentangkan selimutnya di wajah bumi, aku bangun dan berjalan ke laut, “Laut tidak pernah tidur, dan dalam keterjagaannya itu laut menjadi penghibur bagi jiwa yang terjaga.”,
Ketika aku sampai di pantai,
kabus dari gunung menjuntaikan kakinya seperti selembar jilbab yang menghiasi wajah seorang gadis.
Aku melihat ombak yang berdeburan. Aku mendengar puji-pujiannya kepada Tuhan
dan bermeditasi di atas kekuatan abadi yang tersembunyi di dalam ombak-ombak itu – kekuatan yang lari bersama angin, mendaki gunung, tersenyum lewat bibir sang mawar dan menyanyi dengan desiran air yang mengalir di parit-parit.
Lalu aku melihat tiga Putera Kegelapan duduk di atas sebongkah batu.
Aku menghampirinya seolah-olah ada kekuatan yang menarikku tanpa aku dapat melawannya.
Aku berhenti beberapa langkah dari Putera Kegelapan itu seakan-akan ada tenaga magis yang menahanku.
Saat itu, salah satunya berdiri dan dengan suara yang seolah berasal dari dalam laut ia berkata:
“Hidup tanpa cinta ibarat pohon yang tidak berbunga dan berbuah. Dan cinta tanpa keindahan seperti bunga tanpa aroma semerbak dan seperti buah tanpa biji. Hidup, cinta dan keindahan adalah tiga dalam satu, yang tidak dapat dipisahkan ataupun diubah.”
Putera kedua berkata dengan suara bergema seperti air terjun,
”Hidup tanpa berjuang seperti empat musim yang kehilangan musim bunganya. Dan perjuangan tanpa hak seperti padang pasir yang tandus. Hidup, perjuangan dan hak adalah tiga dalam satu yang tidak dapat dipisahkan ataupun diubah.”
Kemudian Putera ketiga membuka mulutnya seperti dentuman halilintar :
“Hidup tanpa kebebasan seperti tubuh tanpa jiwa, dan kebebasan tanpa akal seperti roh yang kebingungan.
Hidup, kebebasan dan akal adalah tiga dalam satu, abadi dan tidak pernah sirna.”
Selanjutnya ketiga-tiganya berdiri dan berkata dengan suara yang menggerunkan sekali:
Itulah anak-anak cinta,
Buah dari perjuangan,
Akibat dari kebebasan,
Tiga manifestasi Tuhan,
Dan Tuhan adalah ungkapan
dari alam yang bijaksana.
Saat itu diam melangut, hanya gemersik sayap-sayap yang tak nampak dan getaran tubuh-tubuh halus yang terus-menerus.
Aku menutup mata dan mendengar gema yang baru saja berlalu.
Ketika aku membuka mataku,
aku tidak lagi melihat Putera-Putera Kegelapan itu,
hanya laut yang dipeluk halimunan.
Aku duduk, tidak memandang apa-apa pun kecuali asap dupa yang menggulung ke surga.
Kala malam datang dan rasa kantuk membentangkan selimutnya di wajah bumi, aku bangun dan berjalan ke laut, “Laut tidak pernah tidur, dan dalam keterjagaannya itu laut menjadi penghibur bagi jiwa yang terjaga.”,
Ketika aku sampai di pantai,
kabus dari gunung menjuntaikan kakinya seperti selembar jilbab yang menghiasi wajah seorang gadis.
Aku melihat ombak yang berdeburan. Aku mendengar puji-pujiannya kepada Tuhan
dan bermeditasi di atas kekuatan abadi yang tersembunyi di dalam ombak-ombak itu – kekuatan yang lari bersama angin, mendaki gunung, tersenyum lewat bibir sang mawar dan menyanyi dengan desiran air yang mengalir di parit-parit.
Lalu aku melihat tiga Putera Kegelapan duduk di atas sebongkah batu.
Aku menghampirinya seolah-olah ada kekuatan yang menarikku tanpa aku dapat melawannya.
Aku berhenti beberapa langkah dari Putera Kegelapan itu seakan-akan ada tenaga magis yang menahanku.
Saat itu, salah satunya berdiri dan dengan suara yang seolah berasal dari dalam laut ia berkata:
“Hidup tanpa cinta ibarat pohon yang tidak berbunga dan berbuah. Dan cinta tanpa keindahan seperti bunga tanpa aroma semerbak dan seperti buah tanpa biji. Hidup, cinta dan keindahan adalah tiga dalam satu, yang tidak dapat dipisahkan ataupun diubah.”
Putera kedua berkata dengan suara bergema seperti air terjun,
”Hidup tanpa berjuang seperti empat musim yang kehilangan musim bunganya. Dan perjuangan tanpa hak seperti padang pasir yang tandus. Hidup, perjuangan dan hak adalah tiga dalam satu yang tidak dapat dipisahkan ataupun diubah.”
Kemudian Putera ketiga membuka mulutnya seperti dentuman halilintar :
“Hidup tanpa kebebasan seperti tubuh tanpa jiwa, dan kebebasan tanpa akal seperti roh yang kebingungan.
Hidup, kebebasan dan akal adalah tiga dalam satu, abadi dan tidak pernah sirna.”
Selanjutnya ketiga-tiganya berdiri dan berkata dengan suara yang menggerunkan sekali:
Itulah anak-anak cinta,
Buah dari perjuangan,
Akibat dari kebebasan,
Tiga manifestasi Tuhan,
Dan Tuhan adalah ungkapan
dari alam yang bijaksana.
Saat itu diam melangut, hanya gemersik sayap-sayap yang tak nampak dan getaran tubuh-tubuh halus yang terus-menerus.
Aku menutup mata dan mendengar gema yang baru saja berlalu.
Ketika aku membuka mataku,
aku tidak lagi melihat Putera-Putera Kegelapan itu,
hanya laut yang dipeluk halimunan.
Aku duduk, tidak memandang apa-apa pun kecuali asap dupa yang menggulung ke surga.
3/13/2014
Sejarah ISOLA
Perjalanan saya kali ini adalah mengunjungi salah satu ibukota terbesar di Indonesia, Bandung. Tujuan saya saat ini mengetahui keberadaan Gedung ISOLA yang konon gedung ini merupakan saksi bisu jaman penjajahan Belanda di Setiabudi, Bandung.
Letak gedung ini berada disekitar wilayah kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang dahulu bernama IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan). Terletak di sisi kiri menuju Lembang, Jl. Setiabudi.
Gedung ini memiliki gaya seni Art Deco, gaya hias yang lahir setelah Perang Dunia I dan berakhir sebelum Perang Dunia II. Villa ini dibangun pada tahun 1933 milik Dominique Williem Berretty, kemudia bangunan ini dijadikan tempat tinggal. Hingga akhirnya menjadi bagian Hotel Savoy Homann.
Pada masa kemerdekaan gedung ini pernah dipakai sebagai markas tentara Jepang. Hingga akhirnya dibeli oleh pemerintah Indonesia dan saat ini gedung ini dijadikan gedung rektorat kampus UPI, Bandung.
3/12/2014
2/26/2014
2/14/2014
MELANGKAH !!
Oh...
Ku tak sendiri
Pancaran sinar mentari
menemani tiada henti
Oh...
dan tak ku sesali
Tlah ku lupakan dirimu
Tak mengapa, aku melangkah
Sendiri dapat kujalani ! :)
1/16/2014
Subscribe to:
Posts (Atom)



.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)




