7/30/2015

Cremation Ceremony (Ngaben)

28/06/15, Negari is a village in Klungkung-Bali held a Cremation Ceremony (Ngaben). The ceremony lasted for quite a while because there are several stages before and after burning ceremony. Before discussing the Cremation Ceremony in Banjar Negari, Klungkung-Bali, first we will discuss about what Ngaben or Cremation Ceremony is.

Ngaben or cremation ceremony is a ceremony that very famous not only in Indonesia, but also in worldwide. Besides Hindu, cremation ceremony is also done by the other religions. However, Ngaben in Bali always attracts tourists to observe directly this ceremony. As I know, Balinese Ngaben Ceremony or Cremation Ceremony, is the ritual performed in Bali to send the ceased to the next life. It is a sacred and important ceremony for Balinese Hindu. The family hopes that human corpse relative will go to heaven and could reincarnate as a better person or even moksha (united with God).


Well, I want to share some pictures of Ngaben Ceremony in Banjar Negari, banjar in Balinese society is the smallest social unit.

Wadah or Temple Structure

Burning


Balinese Hindu believe that mortality is not the end of the life, but the beginning for a new better life.

6/10/2015

Pancong Team and '2665mdpl'

Hallo readers!
Saya mau berbagi cerita tentang perjalanan saya dkk ke Gunung Papandayan...

29 Mei 2015, saya berangkat dari rumah teman saya yang berada di daerah Citayam, rumah Cikadev. Disana sudah ada adek Ivone dan bang Lupus. Kami berangkat sekitar pukul 20.00 dari stasiun Citayam menuju stasiun Tanjung Barat dengan bekal yang lebih dari cukup, karena mama Cikadev telah mempersiapkan banyak cadangan makanan untuk kami. Setelah sampai stasiun Tanjung Barat kami melanjutkan perjalanan ke Pasar Rebo dengan maksud menggunakan jasa bus umum yang menuju Garut. Namun sayang, sesampainya kami di Pasar Rebo ternyata banyak sekali pendaki yang akan berangkat sehingga bus menuju Garut pun penuuuuh terusss! Hingga pukul 23.00 kami tidak kebagian bus menuju Garut.

Singkat cerita, bang Lupus menghubungi jasa travel yang biasa mengantar pendaki hingga ke tempat tujuan. Ada 3 orang dari pendaki yang kebetulan berangkat bareng dari stasiun Citayam, mereka pun diajak untuk menggunakan jasa travel yang sama. Eh ternyata mereka lebih memilih naik bus yang penuh dan mungkin tidak kebagian tempat duduk untuk sampai ke Garut. Yasudahlah ya akhirnya bang Lupus menawarkan ke pendaki lain yang beranggotakan 7 orang dalam 1 tim dan akhirnya mereka pun mau berangkat bareng kami dengan menggunakan jasa travel tersebut. Horeeee tamn-teman baruuu!!

Pukul 23.30 kami pun berangkat karena travel sudah menjempu kami di Pasar Rebo, gerimis pun menghampiri kami seakan pertanda kami diberkahi dalam perjalanan ini. :')

Pukul 06.30 kami tiba di pintu masuk wisata Papandayan dan beralih kendaraan dengan menggunakan pick up, sebelum itu kami mempersiapkan diri untuk MCK dan sarapan. Kami pun sampai di Pos 1 (Camp David) sekitar 10 menit menggunakan pick up dari pintu masuk tadi. Sebelu mulai pendakian, sesepuh kami aka bang Lupus memimpin doa agar diberi kelancaran saat perjalanan ke puncak dan saat kembali turun.

Berikut kami abadikan momen kami saat menuju puncak Papandayan dan saat kembali turun...

Mengabadikan momen di Pos 1 sebelum memulai pendakian



Kawah Papandayan


Tuan Takur wkwkwk





Astungkara sampai puncak Papandayan



Tegal Alun



3/12/2015

Ayok baca link ini, lalu tinggalkan jejak kritik dan saran anda :)

Om Swastyastu
Hallo readers!
Saya Luh Eka Margarita Setianingtyas, 21 years old.
Dalam rangka memperingati ulang tahun Peradah yg ke-31, saya ikut berpartisipasi dalam Lomba Menulis Populer. Syarat untuk memenangkan lomba  dilihat dari banyaknya viewer dan komentar dalam artikel tersebut.

Artikel saya ini mencakup opini saya mengenai pemuda Hindu, khususnya di Bali. Pemuda yang memiliki rasa optimis yg tinggi dalam pembangunan bangsa menuju bangsa yang mandiri. Karena, pemuda dinilai memiliki pemikiran yang kritis dan dalam melihat secara arif perkembangan bangsa saat ini.

Nah, bagi readers yang bersedia membantu saya untuk memenangkan kompetisi ini, dipersilahkan untuk membuka link di bawah ini dan tinggalkan jejak berupa kritik dan saran di kolom komentar artikel saya, bukan di blog ini. Thank you in advance!

Selamat membaca :)

http://edukasi.kompasiana.com/2015/03/11/kontribusi-dan-integritas-pemuda-hindu-menuju-bangsa-yang-mandiri-729280.html

2/10/2015

MELIPIR KE BUITENZORG

Selasa, 27 Januari 2015 saya diajak abangnya Kaino ke salah satu tempat bersejarah di daerah Bogor. Tujuan utama kami kesana adalah hunting dengan model si kecil Beargguy, sekali-kali ajak si kecil jalan-jalan. Tujuan lainnya menapaki kaki di tempat ini ialah menambah pengetahuan tentang tempat bersejarah ini, ya bonus main lah ya! Hahaha

Yak! Kami ke Kebun Raya Bogor, kebun raya pertama di Asia Tenggara yang juga menjadi lokasi istana presiden, Istana Bogor. Dulu nama kebun raya ini Buitenzorg.

“Heaayyy!”

Udah kesekian kalinya saya ke tempat ini, namun tidak pernah merasa bosan. Karena, disini itu sejuk, hijau, dan banyak bunga! Dan yang ajaibnya –entahlah ini ajaib atau emang kebetulan– kami berangkat dari Depok setelah hujan deras berhenti, tadinya mau mengurungkan niat kami kesini, namun hati kecil berkata lain. Akhirnya kami berangkat tanpa pikir panjang dengan menggunakan transportasi umum, Commuter Line. Diperjalanan kami melihat langit didaerah Bogor gelap, dan kami berpikiran akan hujan! :(

”Yaudahlah kalau hujan kita balik lagi aja atau makan disekitar Stasiun Bogor”, ucap saya pasrah.

Dan tepat dugaan kami! Sesampainya di stasiun, gerimis pun datang! Langsung cari angkot 03 (info dari temen, meskipun harusnya 02 biar gak muter2 jauh) kami turun di Botani Square dan terpaksa gak terpaksa kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. It doesn’t matter! Jiwa petualang kami mulai memanas. Melalui penyebrangan underground. Sayang sekali, fasilitas ini masih dianggap asing oleh sebagian masyarakat. Padahal gratis loh, trus aman buat nyebrang~

Kalau diukur, jalan kaki dari Botani Square ke KRB lumayan juga. Tapi serius deh gak kerasa capek, yang ada malah cekakakan di jalan sambil liatin kelinci yang dijual dipinggir jalan. Kasian ya kelinci itu, kena debu, asap kendaraan, gerimis pula.

Beberapa menit kemudian....sampai! Horaaay! Terlihat pintu masuk KRB dengan tiket 14.000 rupiah saja! Terjangkau kan harganya~

Ini yang saya bilang ajaib, tidak hujaaaaaan!!

Petualangan pun dimulai. Hajimemashou!

Objek pertama yang kami ambil adalah....Istana Bogor! *siapin kamera*

Istana Bogor

 Lalu,

Lotus

Setelah mengambil gambar teratai, saya penasaran dengan kuburan Belanda. Akhirnya kami menuju lokasi. Dan anda tau, lokasi kuburan itu tertutup bambu-bambu. Kalau tidak jeli, mungkin tidak akan terlihat. Sayangnya, tidak sempat saya ambil gambar karena saya terlanjut ngibrit karena takut, payah! Lalu, kami memutuskan balik lagi ke sekitar pintu masuk. Ada sebuah monumen......

Monumen Lady Olivia Raffles


Dan ini modelnya.......

Berhubung dia mini, jadi harus begini posisi pengambilan gambar

si kecil Beargguy sedang ber-pose

ssstttt!
 

Hi!



Ini beberapa spot yang bikin hati adem.
Soalnya yang nemenin lagi adem hahaha~



Nemu pinecone!



Ada yang lucu saat nyari spot disekitar jembatan merah. Ini ayam kenapa genit banget ya? Dia tau kalau saya pegang kamera, lalu terus mendekati saya. Akhirnya dia ber-pose tepat didepan kami!  >.<
Ayam juga narsis!
Berhubung almost 4pm dan museum Zoologi mau tutup, akhirnya kami memutuskan untuk ke museum. (berangkatnya kesiangan sih huhuhu)

Hayooo tebak ini kerangka hewan apa saja?!




Kerangka paus biru raksasa (Balaenoptera musculus)

Setelah memanjakan mata, hati, pikiran, dan perut. Kami pun kembali ke habitat, Depok! Dengan menggunakan transportasi umum, Commuter Line.

Terimakasih telah membaca, sampai jumpa di petualangan selanjutnya bersama si kecil Beargguy III dan abangnya Kaino :)

 

6/30/2014

Kota Gudeg

Hi, readers !
Kali ini saya mau berbagi cerita tentang keindahan kota Yogyakarta.
Sudahkah anda berkunjung ke kota ini ? Jika sudah, besar kemungkinan anda merindukan tempat ini kembali. Hihihi

Yogyakarta atau Ngayogyakarta (Pakubuwono II) sering disebut sebagai kota pelajar karena berkaitan dengan sejarah dan peran kota ini dalam bidang pendidikan di Indonesia. Sebutan kota perjuangan juga merupakan salah satu predikat untuk kota ini berkaitan dengan peran kota Yogyakarta dalam konstelasi perjuangan bangsa Indonesia pada jaman kolonial Belanda, jaman penjajahan Jepang, maupun jaman memepertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Yogyakarta pernah menjadi pusat kerajaan Mataram. Predikat kota kebudayaan dan pariwisata pun tak luput diberikan untuk kota Gudeg ini. Sehubungan dengan adanya peninggalan-peninggalan budaya menjadikan kota ini memiliki daya tarik tersenderi terhadap wisatawan. Yogyakarta merupakan tujuan wisata kedua setelah Bali bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. 

Disamping dengan predikat-predikat yang diberikan kepada kota ini, Yogyakarta juga memiliki hal menarik lainnya, yaitu nama daerah yang dimilikinya. Daerah Istimewa Yogyakarta, status Yogyakarta sebagai Daerah Istimewa ini berkaitan dengan sejarah kota Yogyakarta baik sebelum maupun sesudah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Saya abadikan gambar saya saat saya dan teman2 saya berkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta ini.

At Malioboro sebelum makan Gudeg


At KM 0

Ketemu anak ini, Icand. Kawan lama SMA saya hahaha. Thanks ya Cand...

Gak tau kenapa banyak yang bilang kalau ke Jogja wajib foto di sini. Saya sih ikut2an aja hahaha

Pantai Parangtritis

Pasca penghitaman kulit. Biar tambah eksotis. Gapapa deh~

Wah ini !! Girang banget nemu beginian hahaha. At Alun-alun Kidul Yogyakarta

At Keraton Yogyakarta

At Museum Kereta Keraton Yogyakarta

At Taman Sari

The cuttest one ! MONJALI. Taman Lampion. :))

Aaaaa ketemu Mickey Mouse di tempat se-romantis ini (Taman Lampion). Akhirnya bisa pacaran juga sama Mickey. HUG ! ~


Naruto yg bajunya kebalik *ups. Hehehe


Hallo ! Ibu Mega :)

Yak ! Itulah yang bisa saya sampaikan saat ini. Meskipun berkunjung ke kota ini udah ke sekian kalinya, namun saya tetap merasakan "greget"-nya kota Gudeg ini karena moment yang saya ambil berbeda-beda, dari mulai pergi bersama keluarga hingga teman-teman. Ohya kalau malem nih, sangat disarankan untuk makan di angkringan ! Walaupun orang tua saya sering bilang kalau makan di angkringan atau makan nasi kucing gitu gak kenyang tapi toh kan bisa nambah hahaha..

Terimakasih telah mampir.

Sekian~